Sydney sebagai kota terbesar dan icon Australia selalu berusaha untuk mewarnai rutinitas populasi multikulturalnya dengan berbagai event menarik di berbagai venues. Saya lihat acara-acara yang diadakan juga beragam, diantaranya yang terkenal adalah festival kembang api New Year’s Eve, festival parade komunitas gay Mardi Gras, festival Chinese New Year, Winter Festival, Sydney Vivid Live; dan masih banyak lagi pameran, live show dan workshop dalam bidang pendidikkan, rekreasi, budaya, kesenian, kuliner dan bisnis.

Sejak tahun 1973, Sydney telah menjadi tuan rumah bagi salah satu festival kesenian kontemporer yang paling dihormati dan terkenal di dunia. Reputasi ini dibangun dengan senantiasa melakukan terobosan baru pada setiap edisi, dan memperkenalkan kepada audiens visi-visi yang maju, dan merintis inovasi dalam karya seni.

Salah satu event yang sedang berlangsung saat ini adalah Biennale of Sydney yang ke-18, diadakan dari tanggal 27 Juni hingga 16 September 2012. Berbagai pameran seni kontemporer dari para seniman lokal dan internasional dipamerkan kepada masyarakat dan turis secara gratis dan tersebar di empat lokasi: the Art Gallery of New South Wales, Museum of Contemporary Art Australia, Pier 2/3 dan Cockatoo Island yang tercatat sebagai warisan dunia.

Museum of Contemporary Arts: Possible Composition

Dimana telah terjadi perpisahan dan perpecahan (fragmentation) pada semua aspek kehidupan, disana saat ini adalah keinginian untuk menyusun dan merekomposisi bersama – dengan menyambung bagian-bagian yang telah terpisah menciptakan suatu hal baru yang heterogen.

Pier 2/3: As Above As Below

Menunjukkan keterkatian antara bumi dan langit, antara publik dan pribadi, proyek seni ini memvisualisasikan interconnection dan interdependency kesemuanya: makrokosmos.

Cockatoo Island: Stories, Senses and Spheres

Opening up to the senses of water, wind, earth, and their embedded meanings, in collaborative and interactive projects that have shared storytelling and caring at their core.

The City of Sydney peduli dengan penduduknya yang datang dari berbagai latar belakang dan senantiasa bekerja keras untuk hidup di kota metropolitan ini. Dan jangan bayangkan juga kalau kota ini selalu ramai hiruk-pikuk seperti kota besar lainnya di Asia. Pada hari-hari biasa, pertokoan sudah tutup pukul 5 sore, kecuali hari Kamis mereka beroperasi sampai pukul 9 malam. Maka saya senang sekali dengan diadakannya banyak event ini dimana semua orang bisa berkumpul dan berjalan bersama teman dan keluarga menikmati liburan, dan keramaian ini bisa dilihat dijalanan yang menjadi topik pembicaraan.

Kalapun Sydney sedang tidak mengadakan acara, banyak hal yang bisa dilakukan untuk bersantai. Banyak coffee shop, perpustakaan dan museum; atau sekedar jogging dan berolahraga di taman atau di pesisir pantai, kemudian menyantap satu paket fish and chips; pergi memancing, piknik, camping dan BBQ di taman nasional yang mengitari kota; berkeliling dunia di tempat dengan eksplorasi kuliner internasional yang banyak tersedia; atau kalau cara nongkrongnya orang Ozzie adalah pergi ke pub sambil mendengarkan music dan menonton rugby.

Baik local government dan penduduknya tidak lupa bahwa hidup ini harus bisa dinikmati. It’s okay to take a rest and be in touch with your appreciation of arts and the nature, and enjoy a bit (or lots) of coffee and sandwich along the way.

Aroma Festival at the Rocks: Divine world of coffee, tea, chocolate and spice, Minggu 29 July

More pictures in the gallery More of the Biennale: Contemporary Art🙂

Links:

bos18.com

artgallery.nsw.gov.au

mca.com.au

cockatooisland.gov.au