Backpacking? Dan trekking? Bagiku yang sebelumnya belum pernah berpergian ke daerah pelosok yang konon tidak ada listrik dan secara petualang backpacker yang cost-efficient, rasanya menakutkan sekali untuk berangkat. Tetapi bagaimana lagi? Aku terlanjur penasaran dengan petualangan baru.

Ketika aku sedang menyusun skripsi beberapa bulan lalu, aku beresolusi untuk melakukan perjalanan backpacking pertamaku sebelum berulang tahun yang ke-21, bulan Mei, tahun 2011. Bulan Maret setelah lulus sidang skripsi, aku mulai rajin mengecek email dari komunitas backpackersedunia, Couchsurfing.org.  Kebetulan tak lama  kemudian Kak Ais, seorang wanita petualang yang baru kembali dari studinya di Brisbane, posting di forum grup Indonesia. Ia mencari travelmates untuk bergabung trekking ke Kampung Baduy. Grup terbatas bagi 8 orang, lokasi masih dekat-dekat Jakarta, dan medan perjalanan relatif mudah. Yes! This is it!

 

There’s gotta be a first time for everything, right?  Ketertarikan saya dengan jalan-jalan ala backpacking sebenarnya sudah lama, tapi belum pernah berani. Ternyata sangat menyenangkan sekali dapat bertemu dengan teman-teman baru, apalagi mereka yang sudah malang-melintang ke berbagai daerah di dunia. Terlebih lagi, aku termasuk perempuan yang agak cuek dengan penampilan dan seadanya saja. Selama perjalanan ini, perempuan yang lain pun begitu haha.. Semua serba praktis!

Jumat,  8 April 2011. Perjalanan dari Jakarta menuju Kampung Baduy dilakukan menggunakan kereta, angkot dan elf (angkutan umum yang berkapasitas 13 orang, seukuran dengan mobil travel Jakarta-Bandung). Seru! Excitement saya dari malam sebelumnya masih belum habis. Setibanya di desa Ciboleger (post terakhir sebelum memasuki Kampung Baduy), kami disambut host kami. Mas Musung adalah seorang pria yang cukup terkenal di daerahnya sebagai tokoh pemuda Baduy sekaligus guide terkemuka, orangnya asyik dan friendly terhadap siapapun. Trekking pun dimulai dengan memasuki kawasan Kampung Baduy menuju rumah Mas Musung. Saya memang bukan trekker yang ahli, namun medan pendakian cukup mudah, scored 4 out of 10.

Terdapat kepuasan tersendiri bagi saya dan teman-teman baru saya, saya pastikan semua berkata dalam hati: “Akhirnya kita sampai juga di Kampung Baduy euy!”.  Sepanjang pendakian, walaupun grup kami cukup lelah dari perjalanan 5 jam dari Jakarta, nyatanya tetap bergembira dan bersemangat tak sabar untuk menyaksikan lebih lanjut kuatnya budaya dan kehidupan yang telah berlangsung selama sekian ratus tahun itu. Pemandangan yang disajikan oleh hamparan perbukitan sangat menyegarkan di mata, mengingat saya sudah lama sekali tidak keluar dari Jakarta dan berkutat dengan skripsi dan hiruk-pikuk perkotaan yang menyertai perkuliahan saya. Sejenak semua itu terlupakan oleh kesunyian perbukitan serta damainya orang-orang Baduy yang sedang bersantai sore-sore, membuat lupa akan perjalanan jauh saya sedari siang untuk mencapainya.

Matahari sudah tenggelam sesampainya kami di rumah Mas Musung. Dan ternyata benar adanya. Tidak ada listrik, lampu ataupun obor yang menerangi rumahnya dan kampung itu. Hanyalah grup kami yang sibuk dengan lampu senter menyorot makanan ini dan minuman itu .  Malam hari itu kami habiskan dengan berbincang ditemani kopi dan teh panas dengan Mas Musung. Ia mendorong kami untuk bertanya mengenai apapun yang membuat kami penasaran tentang orang Baduy, dengan harapan kami akan belajar dari tempat yang jauh-jauh didatangi dan menceritakan kisah mereka, Orang Baduy, kepada kerabat di rumah. Click here for the stories.  Tak terasa. Tengah malam cepat berlalu.

Keesokan harinya direncanakan untuk memulai trekking ke Desa Cibeo yang merupakan salah satu dari 3 kampung Baduy Dalam.  Namun apa boleh buat, semalam tetesan hujan terus-menerus jatuh ke tanah Baduy ini yang membuat medan perjalanan semakin sulit karena tanahnya menjadi becek dan licin. Sangat disayangkan memang akhirnya rencana menginap semalam di area Baduy Dalam gagal. Namun yang namanya jalan-jalan, harus tetap jalan-jalan kan?

Rute pun berubah, trekking dimulai kembali!  Betul-betul perasaan yang lega, bahagia dan takjub dengan suasana yang disajikan oleh perkampungan Baduy beserta hamparan terrestrial yang mereka banggakan kelestariannya. Sungguh suatu perjalanan yang refreshing bagi saya. Berada di tengah-tengah perbukitan hijau sejauh mata memandang. Mendengar bunyi gemercik aliran sungai. Tawa-canda bersama teman-teman yang membuat ku lupa dengan kelelahan.

Satu hal yang membuatku sampai bengong saat itu. Berpapasan dengan orang-orang Baduy yang berjalan dengan cepat mendahului kami. And I mean FAST plus AGILE.  Bayangkan saja orang yang  sedang speed-walking dengan santainya, bedanya di jalur setapak yang sempit di perbukitan yang naik-turun dan basah, bertelanjang-kaki pula! Begitulah orang Baduy. Nampaknya kaki mereka sudah terlatih dan mempunyai daya cengkram pada tanah yang kuat sehingga tidak mudah jatuh. Sepatuku pun tak mampu mencengkram tanah untuk menahan beratku.

Trekking dengan membawa backpack memang tidak mudah, apalagi kalau belum terbiasa dengan beratnya. Siap-siap saja pundakmu pegalinu! Backpack saya termasuk cukup besar dibanding teman-teman yang lain yang sudah berpengalaman packing. Inti dari backpacking adalah bagaimana kita bisa efficient dengan bawaan kita, biaya akomodasi dan transportasi. Tujuannya ialah fleksibilitas. Dari perjalanan ke dan dari Kampung Baduy selama 3 hari 2 malam itu, uang yang saya keluarkan jumlahnya tidak sampai Rp. 90.000 (termasuk untuk makanan dan minuman). Liburan murah tetap bisa seru kan? Hehe.

Yang tak boleh dilupakan saat jalan-jalan pastinya adalah kamera. Memang saya sempat merasa down melihat teman-teman lain sudah malang-melintang dengan kamera DSLR beserta lensa-lensanya. Saya masih setia dengan kamera digital Nikon Coolpix L6 – 6 megapixels dari tahun 2004. Haha.. Aku berusaha untuk menghasilkan jepretan-jepretan apa adanya, sambil berkutat dengan pikiran bahwa suatu saat nanti “Aku harus punya DSLR sendiri dan memotret sana-sini seperti yang lain”. Dan Kampung Baduy memiliki panorama, kehidupan dan perkampungan yang, God bless, harus diabadikan dengan kamera kita!

Oh,  backpacking di Baduy. Pengalaman pertama yang tak terlupakan.  Saat aku kembali memasuki Jakarta di suatu siang, Kampung Baduy langsung terbersit. Sudah kangen. Yang jelas, aku ingin mencobanya lagi kalau ada kesempatan, bertahap-tahap sampai ke level yang freeeaaak!! Hehe.. Aku menantikan petualangan berikutnya, ke kampung-kampung lain di Indonesiaku.